Shidew

Senin, 06 Juni 2011

Lembar kerja

Membuat Bunga Lily Buatan dari Sampah Plastik

1. Bahan :
- Sedotan berwarna kuning yang telah dibentuk menjadi benang sari
- Sedotan berwarna hijau
- Gabus bekas apel
- Gunting
- Lem
- Karet

2. Cara membuat :

Minggu, 05 Juni 2011

Skenario Pembelajaran daur ulang plastik

Judul : Mengelola Barang Bekas
Sasaran : Siswa SD kelas V semester 2
Durasi : 2 jam pelajaran (2 x 35 menit)
Penulis : Kelompok 2 Kelas 6 semester 1
Dosen : Drs. H. Nahrowi Adjie, S. Pd, M. Pd

A. Pengantar
Siswa SD kelas V semester 2 diharapkan sudah memiliki dan menguasai materi tentang mengelola barang bekas. Pengelolaan barang bekas ini mencakup pengelolaan daur ulang sampah plastik yakni berkarya dari sampah plastik menjadi benda yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan mampu berkreasi melalui benda yang murah dan tidak terpakai, menjaga lingkungan sekitar, kreatif membuat karya hasil daur ulang.

B. Sinopsis
Kegiatan Belajar Mengajar dimulai dengan sajian fakta menarik tentang lingkungan. Selanjutnya, guru membimbing siswa untuk menyebutkan macam-macam sampah. Guru membawa contoh hasil karya dari sampah plastik yaitu bunga lily buatan. Hingga akhirnya setelah pelajaran ini, siswa dapat membuat sendiri bunga lily dari sampah plastik.

C. Setting
Ruang kelas : Terdiri dari meja dan kursi guru, meja dan kursi siswa-siswa

D. Properti
- Sedotan bekas minuman
- Gabus bekas buah apel atau pir
- Lem
- Gunting
- Gambar akibat dari permasalahan sampah

E. Talent : Guru dan siswa-siswanya

F. Naskah :
1. Guru memasuki ruangan kelas
2. Guru mengucapkan salam
3. Siswa-siswi berdiri dan membalas salam
4. Guru mempersilahkan siswa-siswinya untuk duduk kembali dan guru menunjuk seorang siswa untuk memimpin do'a
5. Siswa-siswi berdo'a
6. Guru mulai mengabsen siswa-siswi
7. Guru memulai pelajaran dengan bertanya kepada siswa,
"Anak-anak, coba perhatikan sampah yang ada di sekitar kalian! Sampah apa saja yang ada? Coba sebutkan!"
Siswa-siswi menjawab dengan beragam sampah yang ada di sekitarnya.
"Sisa makanan, kertas, barang-barang dari plastik, kain bekas, tisu, botol-botol, bahkan mungkin sampai mainan-mainan atau peralatan rumah dan kendaraan yang tidak terpakai lagi serta masih banyak lagi"
"Nah, pada hari ini, ibu akan membahas tentang sampah"
8. Guru bertanya kembali kepada siswa. "Coba ada yang dapat menyebutkan jenis-jenis sampah?"
Siswa menjawab dengan berbagai jawaban.
"Ya, sampah terdiri dari sampah organik, sampah anorganik, dan sampah B3"
9. Guru menjelaskan perbedaan sampah organik, sampah anorganik dan sampah B3.
- Sampah organik yaitu sampah yang terdiri atas bahan-bahan yang bisa terurai secara alamiah/biologis. Misalnya sisa makanan.
- Sampah anorganik yaitu sampah yang terdiri atas bahan-bahan yang sulit terurai secara biologis sehingga penghancurannya membutuhkan penanganan lebih lanjut. Misalnya plastik dan styrofoam.
- Sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun) yaitu sampah yang terdiri atas bahan-bahan berbahaya dan beracun. Misalnya bahan kimia beracun.
10. Guru memperlihatkan gambar akibat dari permasalahan sampah selain masalah persoalan lingkungan, kerawanan sosial dan bencana kemanusiaan.
11. "Nah, untuk menjaga lingkungan agar tetap sehat dan sampah tidak menggunung salah satunya melalui recycle (daur ulang). Pada kesempatan kali ini, kita akan berkreasi dengan sampah plastik. Sampah ini akan dijadikan barang yang bermanfaat. Sekarang, ibu akan membagi kalian ke dalam 3 kelompok, setiap kelompok akan dibagikan lembar kerja dan bahan-bahannya. Silahkan berkreasi!"
12. Siswa-siswi membuat bunga lily buatan dengan lembar kerja yang telah dibagikan.
13. Guru meminta peserta didik membuat hasil laporan kreasi bunga lily buatan.
14. Siswa mengumpulkan hasil kreasi bunga lily buatan.
15. Guru memberi penguatan kepada kelompok yang berkreasi paling baik.
16. Guru menutup pelajaran hari ini.
"Anak-anak, pada hari ini kita telah mengurangi beban sampah yaitu dengan cara daur ulang sampah plastik menjadi hiasan bunga lily yang cantik. Nah, silahkan buat kreasi lain dari sampah plastik di rumah. Pertemuan minggu depan dikumpulkan. Kita akhiri perjumpaan kita hari ini, Assalamu'alaikum wr wb"

Sabtu, 04 Juni 2011

RPP

KTSP (Kurikulum Satuan Pendidikan)

B. Kurikulum 2006 (KTSP)
a. Pengertian dan landasan KTSP

Dalam Standar Nasional Pendidkan ( SNP pasal 1 ayat 15) dikemukakan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidkan ( KTSP) adalah kurikulum operasinal yang disusun oleh masing-masing satan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh Satuan Pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yng dikembangkan oleh Badan Standar Nasional (BSNP).
KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan Undang-undang no 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 36 ayat 1 dan 2 sebagai berikut:

Kurikulum Berbasis Kompetensi

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
oleh:
Prof.Drs.Dewa Komang Tantra,Dip.App.Ling,MSc,Ph.D
ABSTRAK
Kompetensi merupakan sebuah konsep yang masih sering diperdebatkan
secara sengit, tergantung siapa yang menggunakan konsep itu. Pendukung kurikulum
berbasis kompetensi (KBK) yakin bahwa KBK dapat meningkatkan pendidikan atau
pelatihan dan persyaratan kerja. KBK bersifat individualis, lebih menekankan
outcomes (apa yang diketahui dan dapat dilakukan oleh seorang individu). KBK
memperjelas apa yang harus dicapai dan standar apa yang digunakan untuk
mengukur pencapaian tersebut. Secara teoritis, KBK menyelesaikan pembedaan
antara tangan dan pikiran, teori dan praktek, dan pendidikan umum dan vokasional.
Pengritik KBK, menengarai KBK sangat simplistis, berpendekatan kompetensi
tunggal, terlalu mahal, birokratis, sarat beban, dan memerlukan banyak waktu.
Terlepas dari kelemahan (internal) dan kendala (eksternal) tersebut, KBK merupakan
sebuah pendekatan dalam pengambilan kebijakan dalam pendidikan. Maka dari itu,
prinsip dasar yang harus digunakan untuk menjadikan KBK sebuah realita dalam
pendidikan nasional kita, dan bukan sebuah mitos adalah dengan mengubah
kelemahan dan kendalanya menjadi sebuah kekuatan dan peluang.
Kata kunci : kurikulum berbasis kompetensi, mitos, realita.

Kurikulum ala TOBAT

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

Ala TOBAT
(Tyler, Oliva, Beaucamp,Taba)
Pengembangan Kurikulum model Tyler

  • Menentukan tujuan
  1. Disipline oriented, kurikulum berpusat pada penguasaan berbagai konsep dan teori seperti yang tergambar dalam disiplin ilmu
  2. Child centered, kurikulum yang berpusat pada pengembangan pribadi siswa (yang berhubungan dengan minat dan bakat serta kebutuhan untuk membekali hidupnya)
  3. Society centered, kurikulum yang diposisikan oleh sekolah sebagai alat untuk memperbaiki kehidupan masyarakat
  • Menentukan pengalaman belajar
Prinsip menentukan pengalaman belajar

  1. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
  2. memuaskan siswa
  3. melibatkan siswa
  4. mencapai tujuan yang berbeda
  • Mengorganisasi pengalaman belajar
Jenis-jenis pengorganisasian pengalaman belajar

Selasa, 13 April 2010

Kasih Sayang dan Kewibawaan Pendidik

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah proses pendewasaan diri untuk berubah ke arah yang lebih baik. Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disunting oleh Syah (2001:10) adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan melalui pelatihan dan pengajaran diselenggarakan pada semua satuan dan jenjang pendidikan yang meliputi wajib belajar 9 tahun.
Pada penyelenggaraannya, pendidikan memiliki faktor pendukung yakni pendidik, peserta didik, media pendidikan dan alat pendidikan. Pendidik adalah orang kompeten yang mentransfer ilmu kepada peserta didik. Secara khusus, pendidik adalah orang yang mentransfer nilai-nilai afektif, kognitif dan psikomotor kepada peserta didik sebagai proses pendewasaan peserta didik. Peserta didik adalah individu yang menerima ilmu dari pendidik untuk proses pendewasaannya. Media pendidikan adalah benda konkret yang digunakan pada proses pendidikan itu berlangsung. Sedangkan alat pendidikan adalah faktor penentu keberhasilan pendidik pada segi emosional pendidik.
Alat pendidikan tersebut diantaranya kasih sayang dan kewibawaan. Pengaruh emosional kasih sayang berupa bentuk kehalusan budi pekerti. Suatu permasalahan diselesaikan tanpa kekerasan. Pendidikan sejatinya sebagai uswatun khasanah dapat memberikan contoh kasih sayang kepada peserta didik.
Kasih sayang yang diberikan oleh pendidik terhadap peserta didik diukur sesuai kebutuhan peserta didik. Kasih sayang yang kurang atau berlebihan berdampak pada pembentukan karakter peserta didik. Beberapa fenomena hidup yang dialami peserta didik merupakan akibat dari kasih sayang yang diberikan pendidik terhadap peserta didik tanpa menyesuaikan dengan kebutuhan.
Kasus-kasus kriminalitas, kesenjangan sosial, dan kenakalan remaja merupakan dampak dari bentuk kasih sayang yang diberikan tanpa memperhitungkan kebutuhan kasih sayang peserta didik. Tanpa kasih sayang, peserta didik akan bertindak diluar kontrol pendidik. Peserta didik akan menjadi pribadi yang brutal dan sulit diatur. Diluar pihak, peserta didik yang mendapat kasih sayang yang berlebihan akan menjadi pribadi yang manja dan tidak siap menghadapi tantangan hidup. Terbiasa dengan kasih sayang yang berlebihan membentuk karakter manja. Hal tersebut menjadi bentuk kepribadian sulit diubah.
Alat pendidikan selanjutnya adalah kewibawaan. Kewibawaan bukan pemaksaan peraturan yang diterapkan terhadap peserta didik melainkan bentuk kepatuhan peserta didik karena rasa malu. Peserta didik mengerti bentuk kepatuhan terhadap peraturan untuk kebaikan peserta didik bukan untuk keuntungan salah satu pihak.
Sama halnya dengan kasih sayang, kewibawaan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Kewibawaan yang berlebihan akan berdampak pada proses pendidikan diktator. Peran pendidik terlalu dominan. Akses sosial peserta didik jarang terjadi dan mematikan potensi kepemimpinan peserta didik. Fenomena kewibawaan yang berlebihan mengakibatkan peraturan sistematik yang terus-menerus. Kalau pengaturan tersebut tidak ada, maka proses pendidikan terhambat.
Kurangnya peran kewibawaan pendidik akan membentuk karakter peserta didik yang pemberontak dan meremehkan pendidik. Peserta didik sering melanggar peraturan. Apabila peserta didik patuh, maka kepatuhannya dikarenakan rasa takut bukan malu. Peserta didik kurang mengerti arti penting dari suatu peraturan.
Peserta didik akan menjadi pribadi yang egois di lingkungan masyarakat. Kurangnya pengarahan dari pendidik menjerumuskannya pada tindakan kriminalitas.
Berangkat dari pemaparan teori dan fenomena yang telah disebutkan, maka makalah ini diberi judul “Kasih Sayang dan Kewibawaan Pendidikan”.

B. Rumusan Masalah